You are here

YOH 13 : 34-35

Submitted by administrator on June 10, 2016 - 12:53pm
Author: 
Kharis Karsa Jamal

YOH 13 : 34-35

Aku memberikan perintah baru kepada kami, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi:

 

Rencana Tuhan itu memang misterius dan ajaib. Tidak ada yang tahu apa yang dipersiapakan-Nya untuk kita hadapi, siapa yang diutus-Nya untuk kita temui, kapan rencana-Nya itu terlaksana dan masih banyak pertanyaan lainnya. Cerita ini tentunya bermula dari rencana indah-Nya yang misterius yang patut disyukuri.

Berawal dari Sabat lalu dengan pengumuman di Gereja bahwa saya mendapat bagian untuk menjadi pembicara pada ibadah Rabu malam. Entah alergi atau ketidakpantasan saya untuk berbicara di Gereja sebagai pembicara dan membawakan khotbah singkat selalu menjadi pemikiran saya. Sebagai orang yang tidak jauh dari dosa dan bukan orang yang suci yang selalu dengan rajin membaca Alkitab membuat saya enggan untuk maju ke depan mimbar, memberikan khotbah kepada orang lain. Selalu ada pemikiran lain bahwa apa jadinya hidup saya tidak mencerminkan ceramah yang saya berikan. Itulah alasan keengganan saya, alergi saya atau ketakutan saya untuk maju ke mimbar Gereja dan memberikan ceramah.

Rencana Tuhan untuk saya melalui kesempatan untuk khotbah singkat pada Rabu malam 8 Juni 2016 memberikan pelajaran yang baik untuk saya secara pribadi. Saya bersyukur oleh karena Tuhan mengutus saudara P. Bangun serta teman yang tidak saya sangka datang Sharon Malau untuk membantu saya dalam melayani Rabu malam itu. Bahan khotbah singkat saya berasal dari 2 bab buku “Amanat kepada orang muda” oleh Ellen G. White. Bab 94 dan 95 menjadi bahan utama saya. Saya mengalami pergulatan dalam memahami kedua bab ini, karena berbicara mengenai tulisan atau bacaan “duniawi” dan musik dari 2 sudut pandang yang berbeda. Hal ini menjadi pergulatan karena dibahas secara komparatif dan menurut saya terkesan tidak adil. Hal ini dikarenakan bahwa media tulisan dan musik adalah media yang dapat digunakan untuk menyuarakan keagungan Tuhan tergantung tujuan kita. Akhirnya saya mencari apa yang menjadi kesamaan dari kedua bahan tersebut dan berujung pada emosi. Munculnya media seni baik tulisan atau musik karena ada pengalaman pribadi yang juga lekat dengan emosi yang kuat. Tulisan menjadi provokatif atau musik menjadi sangat menenangkan karena penciptanya menciptakan berdasarkan emosi.

Memang saya bukan keturunan suku Lewi yang memang diberkati Tuhan dengan berkat untuk melayani, tetapi saya berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk Tuhan. Saya pada akhirnya membahas Emotional Intelligence karena latar belakang saya dari Psikologi. Saya memang tidak membahas secara mendalam karena tidak ingin keluar dari koridor rohani. Pada dasarnya sentral dari khotbah saya adalah bahwa emosi adalah faktor penting dalam beragam situasi sosial yang memiliki pengaruh besar dalam hubungan antara manusia khususnya dalam Gereja dan usaha pelayanan kita atau pekerjaan kita untuk membantu pekerjaan Tuhan di bumi ini.

Pelajaran pertama yang saya dapati dari khotbah singkat Rabu malam itu adalah bahwa Tuhan selalu ada untuk kita dalam ketakutan kita untuk menbantu menyampaikan firman-Nya melalui perantaraan Roh Kudus. Dia memiliki cara untuk mengasah dan menempa kita untuk menjadi lebih baik melalui kerendahan hati. Serta Tuhan akan mengirimkan  utusannya untuk membantu kita melewati sesuatu (dalam kasus saya tentu Saudara P. Bangun dan teman saya Sharon Malau).

Pulang setelah ibadah Rabu malam saya sangat bersyukur karena bisa pulang bersama Saudara P. Bangun beserta keluarga menuju jembatan benhil untuk naik bus. Perjalanan singkat kami dibahas dengan beragam pembicaraan yang menguatkan iman (yang boleh dikatakan jarang saya lakukan). Akhirnya kami berpisah pada malam itu menuju tujuan kami masing-masing.

Tidak saya sangka rencana Tuhan masih disediakan untuk saya ketika saya sudah naik bus P17 menuju rumah. Kembali saya bersyukur bisa dapat tempat duduk dan mulai dapat melepaskan lelah. Tiba saatnya 2 perempuan naik bus yang saya kira adalah penumpang bus yang ternyata adalah pengamen jalanan. Satu pengamen itu langsung duduk di atas kotak sempit di belakang pintu belakang bus untuk segera tidur, tetapi perhatian saya langsung tergerak untuk memperhatikan pengamen yang lain. Entah oleh karena pelatihan yang didapatkan waktu kuliah mengenai observasi atau karena pekerjaan sebelumnya sebagai recruiter maka ada hal yang menarik perhatian saya mengenai pengamen tersebut. Secara umum perawakan pengamen tersebut adalah seorang perempuan muda berumur kurang lebih 19-21 tahun, putih, berambut lurus panjang, cukup curvy, menggunakan celana panjang dan kaos lengan panjang dengan tas kecil yang terselempang. Bermodalkan suara dan “kecrekan” dari botol berisi pasir dia mulai beraksi. Lagu demi lagu dia lantunkan dengan usaha besar karena harus mengalahkan deru mesin. Terlepas dari keterbatasan yang dimiliki, dia terus berusaha untuk melantunkan lagu tersebut untuk layak didengar. Pada akhirnya dia harus mengakhirnya karena letih. Usaha sebesar itu tentu perlu diapresiasi dengan baik.

Setelah selesai saya memperhatikan dia mulai duduk di tangga bus dan menghitung penghasilan yang didapatkan. Bermula pada uang kertas selembar demi selembar lalu uang logam. Tidak banyak yang didapat namun itu adalah hasil kerjanya yang didapat secara keras dan halal. Hal itu membuat saya kagum bahwa dorongan untuk bertahan hidup di dalam kehidupannya yang keras dan menghargai hasilnya terlepas berapapun itu menghajar saya bahwa masih banyak yang kurang beruntung dari saya. Saya berterima kasih karena Tuhan menitipkan saya di keluarga yang luar biasa baik dan diberkati.

Saya melihat dia mendongak ke arah saya dan saya langsung geser agar dia dapat duduk. Bermula dari itulah perbincangan kami. Saya kembali tergelitik untuk mewawancarai dia setelah pembukaan pembicaraan yang singkat dan ramah. Pertanyaan akhirnya keluar satu demi satu seperti, “Mba, ngamennya bareng temen apa saudara?, sudah berapa lama mengamen? Tinggal di mana?” Dan masih banyak pertanyaan lainnya. DIa menjawab “bareng teman tapi udah kayak adek sendiri, ini baru sebentaran abis selesai smk, tinggal di Bekasi” itulah jawaban-jawabannya. Singkat cerita, perbincangan kami berlanjut pada pertukaran nama, namanya adalah Diana. Diana kemudian menceritakan kehidupannya yang cukup pribadi kepada saya, seorang asing yang baru bertemu. Diana bercerita bahwa dia adalah anak yatim piatu karena kedua orang tuanya meninggal pada saat dia kecil. Dia tidak pernah bertemu orang tuanya dan menghabiskan masa kecilnya di panti asuhan di Palembang. Pada titik itu saya tersentuh oleh karena ceritanya. Lanjut cerita, dia menceritakan kondisinya sekarang ini dimana dia tinggal sendirian dan diusir dari kontrakan karena belum bayar sementara seluruh hartanya di kontrakan tersebut. Dia melindungi diri dengan tidur di pom bensin. Seketika saat itu saya seperti disambar petir. Sebagai seorang pria, seorang abang, seorang calon suami dan ayah di masa depan (jikalau Tuhan berkehendak) merasa pedih membayangkan dia tinggal sendiri tanpa perlindungan yang memadai tanpa kepastiaan bagaimana dia makan, tinggal dan sebagainya. Saya langsung teringat kepada anak kecil tetangga saya bernama Anna yang kami sekeluarga memanggilnya “cimit” oleh karena situasi yang tinggal tanpa orang tua dan dititipkan kepada neneknya. Perasaan saya pada saat itu bercampur aduk oleh karena situasinya terlebih dengan maraknya kejadian di Jakarta yang tidak aman untuk perempuan. Singkat cerita adalah bahwa akhirnya saya seperti diarahkan Tuhan untuk bertemu dengannya untuk belajar dari Diana dengan segala ceritanya. Saya memutuskan untuk membantu sebisa mungkin untuk permasalahan kontrakannya agar dia paling tidak bisa untuk tidur layak dan mendapatkan kembali segala harta yang dimilikinya. Tapi bukan hal itu yang ingin disampaikan. Hal yang penting adalah bahwa Tuhan mengutus siapapun untuk membantu kita dan mengasah kita untuk peka dan menghidupkan segala ajaran-Nya. Tuhan mengajarkan kita bahwa terlepas seberat apapun hidup kita, serendah apapun titik kehidupan kita sekarang ini, setidak berdayanya kita, setidak menariknya kehidupan kita tapi ada perasaan indah dalam memberi. Hidup itu adalah memberi sebisa dan setulus mungkin dan bukan hanya untuk menerima atau menuntut apa yang pantas untuk kita. Ada istilah Life is to give, the more you give the more you receive.

Satu janji yang Tuhan berikan kepada kita yang selalu saya percaya adalah bahwa dia tidak akan meninggalkan anak-anaknya dalam keadaan yang sulit dan diluar dari kemampuan kita. Saya percaya bahwa Tuhan sudah memiliki rencana yang baik dan indah untuk hidup kita. Saya percaya bahwa Tuhan selalu ada untuk kita. Hal yang kita perlu lakukan adalah adalah penyerahan hidup seutuhnya hanya untuk-Nya. Saya hanya bersyukur oleh karena hidup saya sampai sekarang sangat diberkati Tuhan, keluarga kami diberkati Tuhan. Tidak kurang tidak berlebihan tetapi cukup. Cukup untuk hidup, cukup untuk menghargai dan cukup untuk berbagi.

Kembali saya bersyukur oleh karena pelajaran-pelajaran yang didapat melalui pengalaman-pengalaman tersebut. Saya hanya bisa berdoa bahwa Tuhan boleh untuk terus melindungi dan mengajari saya melalui rencana-rencananya. Saya berdoa agar Tuhan memberkati orang-orang yang membantu saya belajar untuk kembali mensyukuri berkat Tuhan. Saya berdoa agar usaha yang keras, jujur dan tulus dari Diana membawa berkah baginya khususnya di bulan Ramadhan ini. Kiranya juga ibadahnya dapat berkenan dan diterima oleh Allah SWT.

Tuhan terima kasih oleh karena-Mu Saya kembali diingatkan oleh Kasih-Mu yang abadi untuk hidupku.

 

Facebook comments