You are here

Israel dan Perjanjian

joashlorenzo's picture
Submitted by joashlorenzo on May 4, 2021 - 12:00am
Podcast: 

Podcast by AWR Indonesia - Radio Advent Suara Pengharapan

adventbenhil.org : Pelajaran Sekolah Sabat Dewasa -

Pelajaran Sekolah Sabat Dewasa

 

SELASA, 4 MEI

Israel dan Perjanjian 

“Tetapi mereka tidak mau mendengarkan ataupun memperhatikannya, melainkan mereka masing-masing mengikuti kedegilan hatinya yang jahat: maka Aku telah mendatangkan ke atas mereka segala perkataan perjanjian ini, yang telah Kuperintahkan dipegang, tetapi mereka tidak memegangnya" (Yer. 11: 8). 

Perhatikan ayat di atas. Tuhan berkata bahwa Dia akan “mendatangkan ke atas mereka segala perkataan perjanjian ini.” Tetapi, Dia sedang berbicara mengenai sesuatu yang buruk! Kita cenderung berpikir mengenai perjanjian yang hanya menawarkan kepada kita sesuatu yang baik, ada sisi lain. Prinsip ini telah dilihat pada Nuh. Allah menawarkan Nuh sesuatu yang luar biasa—pemeliharaan dari kehancuran, tetapi Nuh harus menurut supaya menerima berkat kasih karunia Allah. Jika tidak, sisi lain dari perjanjian itu akan mengikuti. 

Bandingkan ayat di atas dengan Kejadian 6: 5, mengenai dunia sebelum Air Bah. Apakah persamaannya? Bagaimana ayat-ayat ini berbicara tentang pentingnya kita menguasai pikiran-pikiran kita? 

Sayang sekali, sejarah nasional bangsa Israel sebagian besar adalah pola kemurtadan yang berulang-ulang, diikuti dengan penghukuman Allah, pertobatan, dan satu periode penurutan. Hanya singkat, di bawah pemerintahan Daud dan Salomo, mereka mengatur secara meluas wilayah yang dijanjikan itu. 

Lihatlah ayat-ayat dari Yeremia ini tentang kemurtadan Israel. “Jika seseorang menceraikan isterinya, lalu perempuan itu pergi dari padanya dan menjadi isteri orang lain, akan kembalikah laki-laki yang pertama kepada perempuan itu? Bukankah negeri itu sudah tetap cemar? Engkau telah berzinah dengan banyak kekasih, dan mau kembali kepada-Ku? demikianlah firman TUHAN .... Tetapi sesungguhnya, seperti seorang isteri tidak setia terhadap temannya, demikianlah kamu tidak setia terhadap Aku, hai kaum Israel, demikianlah firman TUHAN” (Yer. 3: 1, 20). 

Ini mengangkat sesuatu yang sudah disinggung sebelumnya: perjanjian yang Allah inginkan bukanlah sekadar persetujuan resmi yang dingin yang dibuat antara dua orang pebisnis yang berusaha untuk membuat kesepakatan terbaik untuk diri mereka sendiri. Hubungan perjanjian adalah komitmen, sesuatu yang serius dan suci sama seperti perkawinan, yang menjadi alasan mengapa Tuhan menggunakan gambaran yang Dia lakukan. 

Poinnya adalah kemurtadan Israel tidak berakar pada pelanggaran tetapi pada satu hubungan perjanjian dengan Tuhan yang hancur, satu kehancuran yang diakibatkan oleh pelanggaran yang akhirnya membawa hukuman kepada mereka. 

Mengapa aspek personal dan hubungan begitu penting dalam kehidupan seorang Kristen? Mengapa, jika hubungan kita dengan Tuhan tidak benar, kita cenderung jatuh ke dalam dosa dan pelanggaran? Juga, apa yang akan Anda katakan kepada seseorang yang menanyakan pertanyaan ini: “bagaimana saya dapat mengembangkan satu hubungan yang dalam dan penuh kasih dengan Allah?

Facebook comments