You are here

Teman Puasa (Yesaya 58: 1-8)

joashlorenzo's picture
Submitted by joashlorenzo on March 9, 2021 - 12:00am
Podcast: 

Podcast by AWR Indonesia - Radio Advent Suara Pengharapan

adventbenhil.org : Pelajaran Sekolah Sabat Dewasa -

Pelajaran Sekolah Sabat Dewasa

 

SELASA, 9 MARET

Teman Puasa (Yesaya 58: 1-8) 

Apakah yang dimaksud dengan kata “puasa” jika dikaitkan dengan Yesaya 58: 3? 

Ini pastilah puasa pada Hari Pendamaian, satu-satunya puasa yang diperintahkan oleh Allah (Im. 16: 29, 31, 23: 27-32). Hal ini ditegaskan dalam Yesaya 58: 3 melalui ekspresi paralel “merendahkan diri kami” (NRSV), yang mengikuti istilah kitab Imamat. Merendahkan hati/menyiksa diri merujuk pada berbagai bentuk penyangkalan diri, termasuk puasa (bandingkan dengan Mzm. 35: 13: Dan. 10: 2, 3, 12). 

Tata cara Hari Pendamaian menjelaskan perintah Allah supaya “menyaringkan suaramu bagai sangkakala!” (Yes. 58: 1). Terompet yang terbuat dari tanduk kambing ini, disebut sho ar, ditiup/dibunyikan sebagai satu peringatan atau pengingat waktu sepuluh hari sebelum Hari Pendamaian (Im. 23: 24). Selanjutnya, setiap tahun ke lima puluh, pada Hari Pendamaian, maka diumumkanlah permulaan dari tahun Yobel atau tahun pembebasan (Im. 25: 9, 10: bandingkan dengan Yes. 27: 13). 

Baca Yesaya 58: 3-7. Apakah yang dikeluhkan oleh Tuhan terhadap mereka? Apakah yang salah dengan “puasa” mereka? 

Tampaknya orang banyak mengharapkan supaya Tuhan memberi pujian atas “kesalehan” mereka. Sudah pasti, mereka berpikir secara terbalik. Mempraktikkan penyangkalan diri pada Hari Pendamaian adalah untuk mengekspresikan rasa syukur dan kesetiaan mereka kepada-Nya pada hari di mana imam besar masuk menghadap hadirat Allah untuk membersihkan bait suci dan dengan cara demikian membersihkan mereka dari setiap dosa-dosa yang sudah diampuni (Im. 16, bandingkan dengan pasal 4). Tindakan mereka harus dilakukan dalam roh yang berterima kasih dan dipenuhi rasa syukur kepada Allah yang menyelamatkan mereka pada hari penghakiman, bukan supaya mendapat persetujuan Allah atas “kesalehan” dan “kesetiaan” mereka. Lagi pula, dosa-dosa bangsa itulah yang telah mengotori tempat kudus Allah. Itu harus dibersihkan dengan darah yang telah tercurah karena segala sesuatu yang mereka telah perbuat. 

Salah satu pelajaran penting yang datang dari ayat ini menunjuk pada perbedaan antara hanya sekadar beragama dan sungguh-sungguh menjadi pengikut Yesus. Bagaimanakah kita melihat perbedaannya di sini? Bagaimanakah kita secara individu, menghadapi bahaya yang sama seperti yang telah disampaikan di sini, yaitu memercayai bahwa ritual keagamaan kita dapat menunjukkan bahwa kita benar-benar mengikut Tuhan sesuai dengan apa yang Dia perintahkan kepada kita?

Facebook comments