You are here

HUKUM ALLAH DAN HARI SABAT DIBUKTIKAN KEBENARANNYA

Submitted by jordan.gultom on June 30, 2020 - 12:05am
Date of Content: 
Tuesday, June 30, 2020

adventbenhil.org : Renungan Pagi -

Renungan Pagi

SELASA, 30 JUNI 2020

Siapakah yang tidak takut, ya Tuhan, dan yang tidak memuliakan nama-Nya? Sebab Engkau saja yang kudus.—Wahyu 15:4.

Sementara kata-kata dorongan kudus ini naik kepada Allah, maka awan-awan pun menyisih dan langit yang berbintang pun kelihatan, tak terkatakan kemuliaannya, yang sangat berbeda dengan langit hitam ganas di sebelah menyebelahnya. Kemuliaan kota sorgawi itu terpancar dari pintu-pintu gerbang yang terbuka sedikit. Kemudia tampak di langit suatu tangan yang memegang dua loh batu yang digabung bersama. Nabi itu berkata, "Langit memberitahukan keadilan-Nya sebab Allah sendirilah hakim" (Mazmur 50:6). Hukum yang kudus itu, kebenaran Allah, yang diumumkan dari Gunung Sinai di tengah-tengah guntur dan nyala api, sebagai penuntun hidup, sekarang dinyatakan kepada manusia sebagai ukuran untuk penghakiman. Tangan itu membuka loh-loh batu itu, dan di sana tampaklah perintah-perintah sepuluh hukum itu, yang dituliskan, seolah-olah dengan pena api. Kata-katanya begitu jelas sehingga semua orang bisa membacanya. Ingatanpun dibangkitkan, kegelapan ketakhayulan dan bidat dihapuskan dari setiap pikiran, dan sabda Allah yang sepuluh, yang singkat, mendalam dan berkuasa itu, ditunjukan kepada segenap penduduk dunia ini.

Tidak mungkin menggambarkan ketakutan dan keputusasaan mereka yang telah menginjak-injak tuntutan hukum Allah yang kudus. Tuhan memberikan kepada mereka hukum-Nya, agar mereka dapat membandingkan tabiat mereka dengan hukum itu, dan mengetahui kekurangan-kekurangan mereka sementara masih ada kesempatan untuk bertobat dan mengadakan pembaruan. Tetapi agar mereka memperoleh perkenanan dunia ini, mereka mengesampingkan ajaran-ajaran hukum itu dan mengajar orang-orang lain untuk melanggarnya. Mereka memaksa umat Allah untuk menajiskan Sabat-Nya. Sekarang mereka dipersalahkan oleh hukum yang mereka hinakan. Jelas sekali mereka lihat bahwa mereka tidak punya dahli. Mereka memilih siapa yang akan mereka layani dan sembah. "Maka kamu akan melihat kembali perbedaan antara orang benar dan orang fasik, antara orang beribadah kepada Allah dan orang yang tidak beribadah kepada-Nya" (Maleakhi 3:18). 

Musuh-musuh hukum Allah, mulai dari pendeta-pendeta sampai kepada yang terkecil di antara mereka, mempunyai suatu konsep kebenaran dan kewajiban baru. Terlambat mereka melihat bahwa Sabat hukum ke empat adalah materai Allah yang hidup. Terlambat mereka melihat sifat yang sebenarnya dari Sabat mereka yang palsu, dan dasar yang rapuh dimana mereka membangun. Mereka mendapati bahwa mereka telah berjuang melawan Allah.—Alfa dan Omega, jld.8,hlm.674,675.

Facebook comments